Th@aSin
Dari nada dasar cinta, gerak dan perubahan lahir dalam keseimbangan dan keharmonisan tanpa cacat. Sebuah Inharmonia Progressio muncul sebagai bagian dari ketentuan-ketentuan yang dinyatakan dengan perintah dan rahmat.
Ketika Cinta maujud di alam yang terpahami dengan cahaya-cahaya yang membangun gagasan, bentuk, dan makna-makna, maka kita semua akhirnya memahami realitas yang tampil sebagai fenomena sebagai sebaik-baiknya bentuk alias insaana fii ahsaani taqwiim. Warna-warni tampil menjadi rona pelangi yang membias langit biru yang jernih di bawah usapan embun dan mentari. Warna-warna yang kemudian menghaluskan cita dan rasa kita untuk memahami semua pemandangan yang tampil di kepala kita, hanyalah wewangian yang dapat kita rasakan.
Ada yang mabuk dalam semilir angin dengan wangi yang manis menusuk dan mengembang kempiskan hidung kita. Setiap pagi, usapan mentari seolah tangan Sang Dwi Swara yang menyanyikan lagu rindu yang abadi. Rindu makhluk kepada penciptanya, rindu Hamba kepada KhaliqNya.
Thaasin, gerak dan perubahan yang dinamis adalah harmoni dari kepatuhan, tasbih dan keseimbangan abadi yang menjelaskan bahwa yang diciptakan, diciptakan hanya untuk menyaksikan Kemahagungan dan Kemahaindahan Penciptanya yang tampil pada semua makhluk-Nya.