Iqra Dan Sucikan Jiwamu, Momentum Bagi Umat Islam Di Harkitnas

Liburan ini saya buat tulisan untuk Hari Kebangkitan Nasional yang gemanya baru saja lewat. Tulisan ini sebenarnya dikirimkan ke sebuah koran, tapi berhubung nggak diterbitkan jadi saya pajang saja disini. Tadinya mau dipublikasikan di multiply, tapi entah kenapa juga saya kok nggak bisa mengaksesnya. Jadi, saya publikasikan saja disini, my secret blog Bait al-Qadissah. Beruntunglah kalau kalian menemukan Blog saya yang satu ini soale memang belum dipublikasikan kecuali kebeberapa teman.

20 Mei baru saja lewat, di hari itu kita di Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, yang bagi sebagian komunitas kecil masyarakat Indonesia yang masih berpikir kritis nampaknya bisa menjadi momentum yang pas untuk introspeksi atas capaian pembangunan nasional dan pendidikan manusia Indonesia. Namun, yang memprihatinkan, memang belum lama kita melihat berbagai kegaduhan dunia pendidikan nasional dengan berbagai ulah yang menunjukkan bahwa soko guru pembangunan karakter manusia Indonesia telah rontok berkeping-keping, menyisakan kengiluan, keprihatinan dan kekhawatiran yang mendalam bagi banyak kalangan.

Apa momentum Harkitnas bagi bangsa Indonesia, khususnya Umat Islam yang saat ini kata statistik menjadi penghuni terbanyak NKRI ini?

Hanya dua kata dan perintah “IQRA dan Sucikan Jiwamu”. Dua perintah yang tidak asing bagi yang masih membaca al-Qur’an. Perintah itu, meskipun kini dapat diucapkan dengan berbagai bahasa seperti BACA, READ, atau bahasa lainnya, mestinya membangunkan kesadaran individual maupun bersama Umat Islam agar lembaran baru suatu umat yang disebut Islam mulai lebih terbuka lebar lagi, melek kembali setelah tidur dan mimpi panjangnya tentang kejayaan masa lalu yang prinsip-prinsip dasar pencapaiannya justru telah lama diabaikan dan dilalaikan.

Kapan kita membuka lembaran kalam Tuhan yang disebut sebagai Al Qur’an dan merenungkan kembali makna IQRA dan menyucikan jiwa?

Saya yakin, tidak semua umat beragama Islam membukanya dengan seksama lantas merenungkannya, menerapkannya dan menyambung rasakannya dengan nasib suatu kaum yang tinggal di Bumi Indonesia yang semakin hari malah semakin terpuruk ke dalam lumpur kehinaan yang dibuat oleh penghuninya sendiri. Keterpurukan itu seolah buah dari melupakan amanah dari junjungan sendiri yaitu Muhammad Utusan Allah.

Ironi? Memang demikian adanya, mau ditolak ataupun diterima, kenyataan telah membuktikan demikian yang faktanya tampil semakin nyata selama beberapa tahun belakangan ini bagaikan ditampakkannya kesalahan-kesalahan (at-Taghabun)suatu kaum karena kelalaiannya dan kemunafikannya.

Iqra, adalah kalimat perintah yang pertama kali diterima ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dengan kalimat yang sangat biasa. Namun, di balik kalimat biasa itu, tersembunyi energi cahaya yang amat luar biasa, bahkan lebih hebat ketimbang sekedar bom nuklir sekalipun. Keluar biasaan ini akan menjadi sangat ruarrrr biasa maknanya kalau saja kita mampu membuka tabir-tabir kebuntuan pikiran dan hati kita yang sudah terkotak-kotak dalam penjara kepicikan dan kesempitan wawasan keberagamaan kita selama ini.

IQRA yang dimaksudkan oleh Pencipta kepada Rasulullah adalah Membaca pesan-pesan Ilahi secara utuh. Membaca dari yang elementer sampai yang nyata, yang semua materinya bertebaran dimana-mana, mulai dari membaca untuk membangun sistem dasar ilmu pengetahuan seperti bilangan desimal dan abjad/alfabet, maupun membaca apa yang sudah tertulis dan menjadi bagian dari pengalaman kehidupan di Planet Bumi khususnya yang berkaitan dengan membaca perilaku manusia dengan akibat perbuatannya, yang baik maupun yang buruk.

Jadi, yang dimaksud IQRA bukan sekedar membaca ayat-ayat al-Qur’an yang sudah dibukukan dan dikotak-kotakkan ke dalam satu atau lebih istilah semantik tatabahasa, bukan juga sekedar menggoyang lidah supaya lantunan al-Qur’an enak didengar. Pendek kata bukan membaca secara parsial. Namun, IQRA dengan sepenuh Jiwa dan raga yang disucikan, dimurnikan sehingga kemampuan baca umat menembus seluruh struktur tembok psikologis realitas fisik maupun metafisik dan melihat serta membaca alam dan diri sendiri sebagai Pesan-pesan Ilahi yang tersembunyi, yang masih dibungkus dalam semua bentuk makhluk serta fenomena Kekuasaan Tuhan.

Itulah cara baca yang sebenarnya dinyatakan dalam ayat ke 1 sampai 5 surat ke 96 al-Alaq. Dan itulah pula sebabnya kenapa ayat yang menyerukan perintah IQRA ATAU BACA ini ditempatkan sebagai ayat yang diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW karena membaca adalah menanggapi seluruh kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan sebagai Kehidupan.

Barangkali, makna IQRA yang utuh di masa awal kenabian memang signifikan gemanya sehingga umat terbaik di sekitar abad 1 sampai 3 Hijriah mampu menyatakan Islam secara utuh, bukan saja sebagai jalan hidup bagi manusia yang tertunduk (Aslim) dan berserah diri (Islam) sebagai hamba Tuhan dengan format ubudiyyah yang paling rasional selama 24 jam untuk menutupi kebocoran pencapaian fisik, namun juga menjadi sistem sosial, budaya dan politik yang lebih luas yang membangun imperium kejayaan suatu kaum dengan keyakinan yang sejatinya paling kokoh pada prinsip-prinsip dasar Tuhan yaitu Tauhid atau Ke-Esa-an. Di masa-masa awal itulah, Umat Islam hari ini mendengar kejayaan umat sebelumnya dengan ilmuwan-ilmuwan ulamanya yang kondang semisal Jafar al-Shiddiq, Jabr Ibnu Hayyan, Al Biruni dan lain-lainnya.

Tapi, itu tinggal kenangan lama yang menjadi mimpi-mimpi kita di hari ini. Ketika kemampuan IQRA dan Menyucikan jiwa yang dengan jelas di Al Qur’an sebenarnya suatu metode pengolahan akhlak manusia Muhammad disia-siakan, dilalaikan bahkan diemohi, kandungan al-Qur’an yang paling berharga pun tersembunyi.

Hikmah-hikmah Al Qur’an seolah melenyap dan tanpa daya selain omelan dalam keluh kesah yang muncul dari jiwa-jiwa yang putus asa yang justru malah dijauhi oleh Sang Pencipta sendiri. Hikmah-hikmah Al Qur’an tidak lagi mempunyai daya gugah dan daya bangkit karena yang mengungkapkannya tidak lagi mau mengikuti apa yang telah menjadi petunjuk di AQ (al-Qur’an) untuk membaca dengan utuh dengan menyucikan Jiwa.

Para Ahlul Bait pun tinggal kenangan lama yang hari ini cuma bisa dikait-kaitkan dengan urusan keturunan yang tidak menunjukkan potensi apapun selain sekedar mengaku-aku, atau sekedar menyombongkan diri tanpa bukti apapun, baik bukti yang sifatnya ruhani maupun jasmani, apalagi akhlak Muhammad yang luhur yang sumbernya dari al-Qur’an.

Wahai Umat Islam, engkau adalah Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW yang mestinya mampu Membaca dirimu, bangsamu, alammu, dan kitabmu sebagai bagian dari jalan kehidupanmu (simak QS 9:128-129). Tapi apa daya, kemampuan untuk membaca itu hanya tinggal daya untuk melagukan sejenak atau dua jenak sambil menunggu datangnya keajaiban-keajaiban Tuhan. Sungguh lucu dan lalai kita ini, mencari keajaiban di batu-batu, pohon-pohon, di langit-langit, di perut bumi, lupa kalau keajaiban yang paling ajaib adalah diri kita sendiri yang mampu membaca Pesan Ilahi dengan 7 tingkatan.

Kemanakah daya itu lenyap? Dalam kesombongan sebagai Umat Islam yang tidak berdaya atau karena kebodohan yang sengaja dipelihara sehingga Umat Islam menjadi seperti domba-domba ternak yang mudah dikurbankan untuk kepentingan ini atau itu, untuk kepentingan sesaat yang isinya cuma kepentingan perut sendiri?

Hari ini, Kebangkitan Nasional bagi Bangsa Indonesia yang mengaku beragama Islam seharusnya menjadi momen untuk mengenang kembali 100 tahun yang lalu ketika founding father negeri ini bangkit dari keterbelakangan mental setelah ditelikung kolonialisme selama berabad-abad. Kolonialisme yang bukan saja datang dari luar namun kolonialisme dari dalam yang diam-diam nampaknya sampai hari ini masih menelikung dari belakang sehingga egosentrisme pribadi dan kelompok lebih menonjol ketimbang kepentingan Perahu Kehidupan NKRI yang membujur dari sabang sampai Merauke.

Kebangkitan Nasional tahun 1428 Hijriah (2007 M) ini hendaknya menjadi momentum bagi semua rakyat Indonesia yang beragama Islam, maupun umat beragama lainnya, untuk membuka kembali kemampuan IQRA dan menyucikan Jiwanya guna Bangkit secara Individual maupun bersama-sama dari kematian pikiran dan rasanya guna mengatasi krisis kejiwaan manusia Indonesia yang berkepanjangan, yang menimpa seluruh tatanan lapisan masyarakat.

Tanpa kesadaran untuk membalikkan nasib secara radikal dengan pedoman yang benar, hari demi hari bagi Umat islam sebagai bagian Bangsa Indonesia hanyalah kegelapan semata. Kegelapan yang dinyatakan diatas panggung-panggung hiburan dengan baju-baju warna-warninya yang memikat, sinetronnya yang membodohi rakyat, dan guyonannya yang sebenarnya sudah berada diambang batas “nyelekitin”.

Semoga, momen Hari Kebangkitan Nasional tahun ini memang menjadi “trigger” yang mampu mendorong lahirnya perubahan psikis dari kembalinya Umat Islam mematuhi pesan Rasulullah untuk kembali MEMBACA Al Qur’an dengan benar, dengan lurus, dan dengan menyucikan kembali jiwa yang sudah keruh karena dicecoki pemahaman-pemahaman yang kusut masai.

Atmnd114912, 18-5-2007, Bekasi

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    [...] sebelumnya dipublikasikan di sini : http://atmoon.wordpress.com/2007/05/23/iqra-dan-sucikan-jiwamu-momentum-bagi-umat-islam-di-harkitnas… Navigasi Halaman«Al Qur’an, Pedoman Bagi Semua Manusia Trackback URL Comments (0) [...]


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.