Hikayat Imajinal Adam Aulia (Adimulya)

12300 tahun yang lalu, di suatu tempat di Planet Bumi seorang manusia mulai bertanya-tanya setelah ribuan tahun generasinya timbul tenggelam dalam celoteh yang tak berkesudahan. Pertanyaan yang sebenarnya telah sepintas sepintas ia dengan dari nenek moyang kaumnya yang menjadi pemburu. Ia adalah Adam, seorang yang ditakdirkan untuk menguraikan rahasia dirinya sendiri mulai dari sekujur tubuhnya yang diselimuti kulit bulu , sampai jempol jari kakinya yang lebar dan tebal.

Telah ribuan tahun moyangnya hidup seperti yang sekarang ini masih dilakukannya. Mula-mula memburu kemudian sedikit demi sedikit kaumnya mengumpulkan beberapa binatang buran yang jinak. Dan kebiasan  yang berpindah-pindah pun mulai mengalami perubahan. Ia mempunyai cukup kesempatan menjadi pengamat aktivitas kaumnya dan lingkungannya. Dan Adam adalah yang pertamakali dengan jeli mengamati dengan cara yang lebih intensif baik dari dekat maupun dari jauh. Baik ia terlibat langsung maupun sekedar mengamati.

Mula-mula, ia melihat hamparan air yang jernih dari danau tempat dimana kaumnya tinggal. Meskipun ia sering berburu ikan di danau tersebut, namun sesekali ia melihat di kelembutan air yang tenang raut wajah dirinya. Wajah yang kasar, berambut lebat , dan sesekali menyeringai menampilkan barisan giginya yang nampak tak terlalu teratur. Kemudian kebiasaan bercermin diatas air sedikit demi sedikit membuatnya terpaku diam memperhatikan susunan bentuk tubuh lainnya. Mula-mula air yang jernih ia usapkan ke mukanya, lalu nampaklah tangannya dengan jari jemari yang kasar. Ia mempunyai sepasang tangan dan mempunyai jari-jari yang berjumlah sama di kedua belah sisi. Demikian juga ia menyadari sepasang kaki dengan masing-masing jemari yang berjumlah sama dengan jemari tangannya.

Lalu iapun menyadari akan sistem anatomis tubuh lainnya. Ketika proyeksi dirinya diperluas ke sekelilingnya maka, ia menyadari bagaimana bumi tempatnya hidup  dihamparkan, tumbuh-tumbuhan berkembang, matahari, bulan, bintang ia lihat bergerak dalam keseimbangan nan dinamis dan agung; dan akhirnya ia menyadari makna akan keseimbangan dirinya, bumi tempat dimana ia tinggal, bulan yang menerangi malam-malamnya, dan matahari yang menerangi siangnya. Metode pengenalan demikian adalah metode para Nabi dan Rasul sejak manusia yang dikenal sebagai Nabi Adam a.s mulai menyadari realitas tentang dirinya, alamnya, dan siapakah Penciptanya.

Keseimbangan tanpa cacat nampak dimana-mana. Ketika Adam menjejakkan kaki di pantai dan menemukan kulit kerang yang melingkar-lingkar dengan indah dan halus, ia melihat proporsi kesebandingan yang ajaib di lingkungan dimana ia hidup. Ia melihat bunga Teratai yang daunnya mengambang diatas air, dengan bunga yang mekar dengan indah dan anggun mencitrakan lukisan keindahan dan keagungan yang belum dipahaminya benar, namun ia merasakannya sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk jenis lainnya karena ia bisa menikmati semua itu dan merasakannya. Ia menemukan rahasia dari semua keseimbangan yang menjadi hukum-hukum alam yang harus dipatuhi dalam perspektif alamiah maupun perkembangan peradaban dimana ia melihat al-Mizan sebagai keseimbangan dan keadilan dalam pergerakan yang harmonis. Ia memahami “Inharmonia Progressio”. Keseimbangan harmonis nan dinamis di semua tatanan yang memungkinkan alam fisikal muncul dan tercipta! Ketika ia menyadari dirinya, hubungannya dengan makhluk lainnya, dan Penciptanya, iapun kemudian menyadarinya sebagai yang ada dalam suatu posisi berhadapan ibarat Dia yang bercermin melihat raut wajahNya. Wajah dalam cermin adalah dirinya yang dihantui kematian, sedangkan Yang Ada disisi lainnya akan ada selamanya sebagai Tuhan Yang Satu-satunya yang menyatakan keberadaan-Nya melalui Diri-Nya sebagai tanda dan bukti untuk dikenali, dipelajari, dan disampaikan bahwa Dia, sebagai Pencipta  Maha Ada, Maha memelihara, dan Maha Mendidik.

Yang melihat ke dalam cermin dan menatap cahaya yang mencuat dari kegaiban kelak menjadi Adam! Manusia pertama yang menguasai Pengetahuan Tauhid dengan basis ABJAD dan BILANGAN, ia menemukan 1 tanda atau simbol, menjadi 2, menjadi 3, menjadi 6, menjadi 5,menjadi 3 simbol dengan satu bilangan dari 4 tahap pemahaman dasar yang kelak menjadi sunnatullah. Dengan penauhidan, Adam menguasai “Asmaa-a Kullahaa” elementer dari sebuah titik sebagai langkah 0123 awal mula alias Nuzulul. Angka 0 atau kosong adalah penemuan ajaran Tauhid!

0+1=1 (dari titik menjadi garis)

1+1=2 (dua garis sejajar yang muncul membangun gelombang naik turun)

1+2=3 (3 garis membangun bentuk segi tiga)

1+2+3=6 sebagai simbol kesempurnaan yang tercitrakan di retina mata manusia, realitas kekuasaan Tuhan yang nyata  dikenali, sebagai Yin-Yang, sebagai Thaasin, sebagai Tai-Chi, dan berbagai deskripsi simbolik lainnya.

1+3=4 (sepasang garis sejajar membangun segi empat sebagai 2 segi 3, bujur sangkar maupun bentuk jajaran genjang)

Semuanya kemudian dimulai dari 1 yang muncul dari kesadaran atas realitas dirinya yang lemah, nol, atau tak berdaya. Ia menyadari realitas hakiki 1 sebagai Yang Satu , Yang Esa, sebagai Tuhan Yang Tunggal, Yang Awal dan Yang Akhir. Dari penauhidan yang muncul dengan kesadaran atas kefakirannya, dengan sebelah tangannya ia kemudian jumlahkan satu demi satu sampai pada angka 4.

Empat (4) jarinya mengembang dalam posisi membalik ke atas seperti memohon sesuatu. Lalu dilihatnya jajaran 2×5 jemarinya. Apakah makna jari yang terakhir. Ia jajarkan 4 jari kanan dan kiri tangannya, ia memahami namun belum mengerti :

1111 dan 1111 = 4 dan 4=? Dan 1 dan 1=?

Ia sedikit bingung karena jari jemari kedua tangannya tidak bisa dicopot begitu saja. Lalu sebuah batangan ranting pohon ia gunakan untuk memodelkan jumlah jari tangannya. Dipotong-potongnya ranting pohon itu sejumlah jemari tangannya yang sebelah yaitu 5 batang. Dibuatnya sebuah kotak dari 4 buah batang kayu yang sama panjang. Bentuknya 4 persegi, sebuah kotak. Kemudian ia jajarkan dengan cara lain sehingga tercitrakan 1111.

Lalu ia buat lagi dengan 4 batang membangun suatu bidang segi 4 atau kotak yang bentuknya sama untuk menggambarkan 4 jari tangan kanan dan 4 jari tangan kiri. Muncul bentuk seperti “jendela” yang dikemudian hari menjadi simbol OO atau angka 8 dan menjadi simbol software terkenal “WindowsJ.

Sebuah bayangan tampil, angka 8 menjadi cermin. 1111 pun bisa menjadi cermin karena sumbernya sama, atau ia sebenarnya cermin yang memantulkan itu seperti ketika ia bercermin diatas air dan menyadari susunan bentuk wajah dan tubuhnya, jadi cermin itu adalah 4 batang kayu yang menjadi model 4 jari tangannya menjadi berbentuk .

Lantas bagaimana dengan 2 jari yang tersisa? Dengan menjajarkan 2 batang potongan kayu, ia kemudian menyusun bentuk 118, 181 dan 811, tergantung kita melihatnya dari mana yang jelas ketika ia kitari jajaran bentuk angka 8 dan 2 buah batang itu ia akan melihat citra angka seperti itu, 118, 181, dan 811. Lalu ketika digunakan satu batang saja ia melihat 18, 81, atau 81,18, tanda ditelapak tangannya mencitrakan arti 18 dan 81 kalau dipahami dengan notasi bilangan dengan huruf Arab.

Takjub dengan penglihatannya, ia cuma menuliskannya saja tidak tahu apa namanya.  Lantas, dua batang yang tersisa ia susun menyilang berbentuk kotak yang membangun angka 8 itu. Sebuah citra terbentuk “Kotak segi empat dengan garis miring menyilang melalui dua sudut atas dan bawah” mewakili jumlah jari dari sebelah tangannya. Citra itu membentuk bangunan ajaib yang serupa benar. Masing-masing bentuknya satu sama lain serupa, seperti bayangan diatas air, dua ruasnya sama panjang. Namanya baru kemudian disebut sebagai “segi tiga sama kaki” yang saling berpasangan membangun bidang segi empat bujur sangkar .

Lantas, ia hilangkan 2 batang kayu dari bangunan baru itu. Sebuah bentuk muncul seperti gunung, ∆. Segi 3 membangun bidang 2-dimensi. Batang-batang kayunya membangun sebuah pemahaman simbolis baru segi 3 atau 3 batang membangun bidang 2 dimensi. Tapi bagaimana 3 batang kayu itu membangun bentuk lainnya, misalnya dirinya yang bisa berbicara, melihat, mendengar, makan, minum, marah, menangis, tertawa, mengungkapkan rasa sayang, membunuh dan berbagai gerak gerik kaumnya yang berbeda dengan makhluk lain yang pernah dilihatnya?

Ia kembali melihat pada dirinya, bagian-bagian tubuhnya selalu berpasangan. Tangannya ada 2 seolah apa yang ia gambarkan dengan bentuk 2 kotak itu saling bercermin. Ia adalah hasil pencerminan! Dilihatnya kembali 2 batang yang sudah dihilangkan dari kotak dengan batang menyilang ditengahnya. Kemudian dipasangkan kembali. Harusnya memang seperti itu jika mau menggambarkan dirinya, 2 kotak dengan masing-masing memiliki batang menyilang untuk menggambarkan 2 buah tangannya yang memiliki 5 jari tangannya. Jadi dirinya ia sebut sendiri sebagai 2 kotak dengan 1 garis menyilang 21 atau 8? Ya, mestinya ia adalah angka 8. Karena angka 8 terbuat dari 2 kotak dengan garis menyilang didalamnya maka ia adalah cermin atau ia adalah bayangan? Tapi cermin siapa? Dan bayangan siapakah aku?

Pikirannya kemudian meluas diwaktu-waktu malam penuh taburan bintang ketika ia takjub dan takut melihat gelapnya langit malam. Kelap-kelip bintang dilangit, bintang berekor yang seringkali dilihatnya berlarian dan berkejaran mempesonakan pemandangan di gelap malam, memperluas wawasannya, lahir dan batinnya yang kemudian bertanya-tanya. Siapakah aku? Ia kembali bertanya.

“Engkau adalah cermin dimana bayangan-Nya tampil.” Yang terdalam dalam dirinya berkata.

“Hah,,,,siapakah yang berbicara?”

“Engkau adalah ‘Ain Ba Dal”,

“Hah….siapakah ‘Abd’. Ia kemudian bertanya-tanya. “Aku adalah Jim”

“Hah… siapakah Jim?”

“Jim yang membuat siang menjadi terang dan malam menjadi gelap….”

“Matahari kah…dan bulankah….”

“Aku adalah Ra…..aku juga adalah Laam….engkau adalah Ba….”, suaranya yang terdalam kembali menggema.

Siapakah yang berbicara denganku?

“Aku adalah Jim, Ba, Ra, Lam dan aku juga ‘Abd.

Jim ba ra lam…Adam mengeja huruf-huruf, lantas ia berkata-kata ”Jibrila”. Dia mengatakan Jibrila…dan dia juga “‘Abd….”.

Adam kebingungan.

Dalam kebingungan, ilham yang muncul mempengaruhi akal pikirannya yang mulai tumbuh berkembang sebagai makhluk yang bertanya-tanya, logika asosiatifnya muncul begitu saja seolah ia mengingat sesuatu yang duluuu sekali pernah ia kenal dari mengenal bayang-bayangannya saja. Ia kemudian membandingkan, ia kenal Hawa dari baunya, bahkan dari jauh ia mengenal Hawa dari gelak tawanya yang khas. Lalu siapakah “Jibrila” itu, yang muncul dari dalam dirinya?

Kemudian, dibukanya satu jari tangan kanannya, namanya Alif, dua jari Ba, jari ketiga Jim, dan jari keempat Dal. ABJAD….Heh sinar terang sepintas berkelebat memasuki hatinya, 4 jarinya adalah ABJAD.

Diingatnya kembali susunan batang-batang yang dibuatnya. Kemudian ia buat kembali dengan cara menghitung satu persatu. Susunan 1 batang adalah Alif, 2 batang adalah Ba, 3 batang adalah Jim, 4 batang adalah Dal. Lalu, bagaimanakah ia membuat batang untuk mewakili Ra dan Laam?

Dilihatnya kembali sepasang tangannya. Dilihatnya kembali susunan 10 batang yang mewakili jari ke-1, jari ke-2, jari ke-3, jari ke-4 yang ia susun dengan deretan batang-batang masing-masing mewakili jarinya yang ke-1,2,3, dan 4. Ia kemudian membuat gagasan sedikit nyleneh. Ia hitung satu demi satu batang-batang itu tetapi dengan cara akumulatif sehingga akhirnya diperoleh jajaran 1+2+3+4=10 batang kayu yang sebenarnya mewakili 4 buah jarinya. Dilihatnya kembali kedua tangannya. Lalu, ia ambil sejumlah batang yang sama dengan jumlah jari tangannya, jumlahnya sama. Susunan 10 batang kayu dari 4 jarinya sama dengan jumlah seluruh jemari tangannya. Ia jejerkan berdampingan namun dengan susunan seperti semula. Jadi sebenarnya ada 20 batang dengan 2 susunan akumulatif 1,2,3,4 atau 2×10=20.

Kembali ia termenung. Jajaran 10 batang di sebelah kanan susunan batang berurutan itu menarik hati dan pikirannya, karena jumlahnya sama dengan jemari sepasang tangannya atau 2×5 jarinya. Tapi ia akan muncul kalau kedua tangannya ia jajarkan. Jadi jari-jari tangan yang semula digunakan untuk menghitung jemari tangan yang sebelah ia gunakan juga. Dan jumlah keduanya ternyata sama 10 batang. Apa artinya. 2 tangan 10 jari. Dilihatnya juga jari kakinya. Sama dengan jari tangannya. Ia kembali diam…kemudian suara teriakan melengking dan manja memanggilnya.

“Adammmmmmmm……”.

Adam menyahut spontan tanpa menoleh ke asal suara yang dikenalnya dengan baik itu, “Yaaaa…………………..”.

Beberapa saat kemudian, kepalanya menoleh kepada suara yang memanggilnya. Pasangannya muncul dari gerumbulan semak belukar dengan setengah merengut. Namun Adam tidak menyambutnya, sahutannya malah menyentakkan kesadarannya. “Yaaaa”. Itulah 10 batang itu “Yaaa”…huruf “Ya….” Huruf yang tampil dari pasangannya yang memanggil dirinya sebagai Adam.

Adam kemudian kembali ke model hitungan jemarinya dan mengingatnya bahwa jajaran 10 jarinya adalah Ya alias 10 batang, yang muncul dari kesadaran karena teriakan pasangannya, istrinya yang tercinta Hawa, yang melahirkan anak-anaknya.  Kemudian dengan gembira ia melonjak, “Hureee…, “Ha-ku tersayang engkau memang ilhamku yang utama, tumpuan hatiku”,  Adam melonjak-lonjak kegirangan.

Kemudian ia kembali melihat kepada Hawa. Dilihatnya kembali jarinya yang belum diberi nama. Jari ke-5-nya kemudian ia sebut “Ha” dari nama istrinya, dan setelahnya ia sebut saja “Wau” karena ia telah memberikan 2 pasang anak dari dirinya sebagai Adam dan Hawa, jadi totalnya ada 6 makhluk seperti dirinya. Ia kemudian menyadari “dirinya” dan “Hawa” saling berpasangan yang diwakili oleh dua batang atau angka 2, tapi 2 batang itu bukan angka 2 tetapi berbentuk 1 dan 1. Jadi ia mempunyai 1 anak setelah dalam keadaan berpasangan atau ber 2-an atau ber-Baa-an, 2 menjadi 1 atau 1 dari 2. 2 itu mewakili 2 x jumlah jari tangannya atau jumlah total jari tangan dan kakinya.

Kemudian ia menoleh kepada “Hawa” yang sudah berdiri didekatnya sambil merengut kesal seperti biasanya. Adam kemudian berkata, “Kamu…”, belum tuntas ia katakan sesuatu, ia kemudian kembali ke susunan 21 batang yang sudah ia jejerkan untuk mewakili jemari tangan kakinya dan 1 anaknya.

Hawa terlihat kesal. Adam tak peduli. Dipisahkannya satu batang sehingga susunannya menjadi 20 dan 1. “Kaf” itu dia nama untuk 20 jemari tangan dan kakinya dari kata “Kamu…” yang belum tuntas diucapkannya kepada “Hawa”.

Kemudian dipeluknya Hawa dengan gemas. Lantas siapakah Yang Satu itu? Yang jelas itu bukan menggambarkan anaknya, tetapi keadaannya bahwa ketika ia memilih Hawa sebagai pasangannya maka ia kemudian beranak pinak. Demikian juga ia dulu dilahirkan dari rahim ibunya. Lantas muncul dirinya, bertemu Hawa, kawin dan muncul anaknya. Tapi siapakah yang membuat anaknya, dirinya, ayahnya, ibunya, dan makhluk yang lainnya. Siapakah dia yang tanpa sadar sudah disebutkannya sebagai “Yang Satu”.

Yang Satu… Yang Satu… Yang Satu…”

Pikirannya diliputi oleh Angka Satu sebagai Yang Satu, Yang Esa sambil menggandeng lengan istrinya kembali ke kelompok sukunya yang sudah memilihnya menjadi pemimpin karena kepandaian dan kearifan yang ditunjukkannya kepada kaumnya. Makhluk yang berjalan tegak dengan dua kaki.

Yang Satu,…Yang Satu…Yang Satu…pikirannya tidak lagi terfokus pada pasangannya Hawa. Tanpa sadar, sambil menggandeng Hawa, telunjuk jari tangan kanannya mengacung menyimbolkan “Angka Satu”, sebagai “Yang Satu” yang memenuhi pikirannya.

Di hari lain, Adam kembali menyusun batangan kayunya seperti hari sebelumnya. Ia masih memikirkan Yang Satu. Dan ia juga masih memikirkan Ra dan Laam. Kemudian diulanginya kembali susunan batang-batang kayunya. Kali ini ia menyusun  10 batang kayu untuk mewakili 4 jarinya, atau 4 anaknya. 10 batang kayu mewakili 10 jari tangannya dan 10 batang kayu untuk jemari kedua kakinya.  

Dilihatnya kembali susunan 3×10 batang tersebut. Jim ia mengacungkan 3 jari. Lantas, Laam…, sejenak ia kemudian melihat 3×10 batang kayu dihadapannya. Lalu, ia melihat kepadanya sambil mengoceh sendirian Alif, Ba, Jim, Dal….  Jim…Laam, mestinya kuberi nama Laam saja susunan 3×10 batang itu katanya dalam hati..Yaa,..yaa.. memang Laam….3×10 batang itu adalah Laam katanya sambil menempatkan 3 jarinya berjajar di susunan 3×10 batang kayu dihadapannya. Adam tersenyum. Membayangkan susunan bilangan dan huruf yang telah diejanya. Alif, Ba, Jim, Dal adalah ABJD yang dibacanya kemudian dengan sisipan huruf hiudp menjadi ABJAD . Lantas, ha dan wau untuk menyatakan Hawa, istrinya dan keluarganya. Kemudian Ya, untuk menyatakan 10 jari tangannya, terus Kaf untuk menyatakan jumlahan 20 jari tangan dan kakinya. Lalu  Laam untuk menyatakan jumlahan dari 4 jari tangannya menjadi 1+2+3+4=10, 10 jari tangannya, dan 10 jari kakinya. Apalagi ya, ia kembali berpikir. Kemarin ia mengingat dirinya dan Hawa, dan anaknya. Ingatannya kembali kepada Yang Satu yang merujuk kepada dirinya. Siapakah aku, darimana diriku, darimana bapakku, darimana ibuku, nenek moyangku. Adam terus berpikir, kepalanya semakin puyeng. Alam semesta terasa berputar di alam pikirannya. 

Ia kemudian kembali melihat susunan batang yang mengambarkan 4 jarinya. Alif, Ba, Jim, Dal……Kemudian ia menyusun Ba dan Jim,  dihitungnya jumlahnya sama dengan 5 jari tangannya yang disebut “ha”. Kemudian ia susun “Ba” dan “Dal”. Nah, yang ini sama dengan lima jarinya dengan satu jari sebelah tangannya, ini “wau”. Dari nama istrinya “Hawa”. Ah Dia lagi-dia lagi , lenguhnya sedikit berkeluh kesah. Dia “Ha dan wa” dan “Huwa” yang Dialah Yang satu itu namanya “Huwa” yang terkasih tapi bukan “Hawa”.   Huwa…, Huwa…., Huwa, ….. ,Dia…, Dia….., Dialah……Yang Satu  itu”. 

“Adammmmmmmmmmmmmmm…”.Teriakan melengking kembali mengagetkannya. Nah ini dia , katanya dalam hati sambil nyengir. Yes, honey baby…”, Adam menyahut asal saja. 

Hawa berlari menuju padanya sambil membawa kantong minuman. Adam keheranan. Ada apa lagi istriku ini, pikirnya. Hawa semakin mendekat kemudian duduk di sebelahnya sambil menyodorkan kantong minuman berisi susu kambing kegemarannya. Tumben, pikirnya. Ia raih kantong itu dan menenggak isinya. Susu yang sejuk, gurih dan manis menetes dari mulutnya diusapnya, kemudian dilihatnya istrinya dengan lembut. Susu adalah minuman kegemarannya. Sebagai makhluk yang berkelompok, kaumnya telah mulai mengelola binatang ternak. Mula-mula kakek moyangnya menangkap beberapa kambing gunung yang liar dengan tanduk-tanduknya yang panjang. Sadar akan manfaatnya jika dikelola dengan baik, cara beternak akhirnya mengubah tradisi kaum Adam. Dari pemburu menjadi peternak dan penggembala, meskipun kebiasaan mengembaranya tidak berubah. Satu generasi kemudian, binatang itu sudah lebih jinak sehingga kaumnya mulai mengambil manfaat lebih banyak dari daging, kulit maupun susunya. Tanduknya malah menjadi suatu simbol kebanggaan tersendiri, sesekali malah dijadikan sebagai alat bunyi-bunyian seperti terompet dan gendang. Pendek kata perubahan tradisi itu meningkatkan kreatifitas mereka. Bahkan, beberapa kelompok lainnya malah membuat mahkota dari tanduk kambing yang diberikan kepada para sesepuh khususnya para tetua yang berilmu (dukun).  Ketika satu generasi berlanjut, maka kambing menjadi binatang ternak yang terpelihara dan moyang Adam mulai tumbuh dengan bentuk yang lebih lain dari kaum sejenisnya yang masih berburu binatang. Kaumnya mempunyai kecenderungan yang lebih cerdas, daya pikirnya mulai berkembang lebih jauh, budaya mengelola binatang ternak melonjak menjadi suatu pola yang khas bagi kelompoknya. Anak-anak kemudian banyak yang menjadi gembala seperti dirinya, dari situ Adam pun sangat menyukai susu karena setiap kali ia haus, ia mencari kambing betina untuk diperas susunya. Ia pun menjadi peminum susu yang tangguh. Semua itu akhirnya telah menjadi kebiasaan ketika dirinya dilahirkan. Tradisi pengolahan     susu kemudian berkembang lebih jauh ketika Adam tumbuh dewasa, sel-sel tubuhnya pun nampak sedikit berbeda  dari kelompok-kelompok lainnya yang hidup sezamannya. Susu memang mengandung banyak manfaat karena ia mengandung sejenis gula yang disebut laktosa. Kaumnya hidup di kawasan yang termasuk kering dan gersang, padang rumput  yang cukup luas sehingga lama kelamaan meminum susu merupakan tradisi kaumnya sebagai pengganti air yang susah diperoleh di padang rumput. Kelompoknya sesekali masih sering mengembara dan berpindah-pindah di padang rumput yang luas, namun kali ini bukan untuk menetap tetapi menggembalakan hewan ternak, atau mencari wilayah yang mempunyai rumput lebih segar.  Ketika binatang ternak semakin bertambah jenisnya maka para penggembala yang mengembara ini sedikit demi sedikit mulai menetap lebih permanen walaupun kebiasaan mengembaranya tidak hilang. Tradisi kemudian berubah dengan cepat setelah melewati beberapa generasi kaumnya mulai membuat dan mengenal simbol-simbol sederhana, mencerap semua realitas dengan cara yang lebih bermakna, dari padang-padang rumput, dibawah naungan langit malam dengan kelap-kelip bintang, petir yang menyambar ketika hari hujan, dan rumput serta pepohonan yang tumbuh subur, sambil menggembala kan binatang ternak inilah kelak generasi keturunan Adam dilahirkan sebagai manusia-manusia cerdas yang menjadi Nabi dan Rasul Tuhan. Kecerdasan kaum Adam sedikit banyak memang dipengaruhi oleh kebiasaannya minum susu yang mengubah komposisi genetisnya, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan. Kelak dikemudian hari ada ungkapan yang terkenal dengan susu adalah “4 sehat 5 sempurna” yang sering diucapkan kaum Hawa yaitu Ibu-ibu, padahal ungkapan itu merupakan kenangan asosiatif generasi anak cucu Adam ketika pertama kali Nabi Adam a.s menemukan sistem hitungan dan huruf Abjad.  

“Ada apa?”, kata Adam kalem.“Nggak apa-apa, hanya ngapain aja sih?”.Adam melihat Hawa dan tersenyum, lalu diraihnya bahu istrinya itu dan berkata “Aku diajari Asmaa-a Kullahaa oleh Huwa”.  Huwa siapa?”, Hawa tiba-tiba sedikit menegang – kemarahan tiba-tiba mulai membias dipipinya yang memerah.  

Huwa, ya Dia”. Kata Adam kalem.Huwa, siapaa !!!”, tiba-tiba Hawa berdiri sambil bertolak pinggang memelototi dirinya. Adam sejenak keder juga melihat perilaku Hawa yang berubah mendadak seperti tersengat lebah.   “Eh..ya Dia, Huwa..katanya”, masih belum sadar kalau Hawa cemburu. “Iya, Huwa siapa? Cewek lain ya, kamu punya simpanan lain ya…?” Hawa kembali memelototi dirinya.  Sejenak Adam melongo …, kemudian tertawa terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di rerumputan. Hawa semakin kesal diledek Adam. Adam kemudian bangkit dan tiba-tiba mengangkat tubuh Hawa yang meronta-ronta karena sergapan Adam. Kemudian, ia dudukkan Hawa di hadapan jejeran batang-batang kayunya. “Ini lho….”, katanya sambil menjejerkan bilangan-bilangan yang membuat Hawa pusing 7 keliling: 

0+1=1

1+1=2

1+2=3

1+2+3=6

2+3=5

6-5=1 dan 5-6=-1

6+5=11 (ha, Wawu)

Angka 4:

1+3=4

1+2+3+4=10=5+5=6+4 

Bilangan-bilangan terus terurai mencitrakan gerak dan perubahan logaritmis yang mulai terikat dari penampilan dibawah naungan cahaya mentari menciptakan era baru bagaimana manusia Adam kelak memahami tentang dirinya,masyarakatnya,lingkungan hidupnya, dan Tuhannya yang tampil nyata dengan rumusan sederhana  sebagai titik yang menguraikan lingkaran dengan perbandingan jejari 1:2:4 (Golden Ratio). @mnd-114912, Revised on 19-6-2006, @12:46

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.