Cermin yang retak itu adalah milik kita. Tempat dimana kita biasanya mematut-matut diri. Disitu, kita biasanya melihat-lihat wajah tampan kita, bopeng kita, kekejian kita, keramahan kita, ketamakan kita, kemunafikan kita, dan semua yang tampil dari dalam tabir jiwa kita.
Cermin itu tak pernah berdusta. Ia cuma sekedar menampilkan bayangan kita. Tapi ia begitu sakti, sehingga apapun
gaya yang kita tampilkan, justru wajah asli kitalah yang diperlihatkannya. Engkau akan frustasi kalau berusaha menggaya-gayakan dirimu di hadapan cermin itu. Karena baginya engkau tak lebih dari bayangan yang bergerak-gerak untuk mematut-matut semata. Engkau bayangan, dan bayanganmu yang tampil dalam cermin adalah bayangan kamu yang sebenarnya lebih asli ketimbang dirimu sendiri. Engkau maya, dan bayangan yang tampil dalam cermin adalah realitas dari bayang-bayang yang asalnya adalah dirimu.
Cermin itu sekarang makin retak. Retak-retak yang dulu kecil, kini semakin lebar. beberapa diantaranya malah sudah rontok menjadi serpihan-serpihan debu. Cermin itupun sudah gompal di
sana sini. Wajahnya yang dulu indah menampilkan rupa tampan dan cantikmu tak lagi mampu menampilkan bayangan yang sama cantik dan tampannya. Retaknya mengganggu bayanganmu sehingga wajahmu yang tampan nampak menjadi penuh cacat dan noda.
Sebenarnya kita beruntung. Karena satu dari dua makhluk yang bisa menyadari bayangannya tampil di dalam suatu cermin. Makhluk lainnya yang bisa menyadari bahwa dia sedang bercermin sering dikira menjadi nenek moyang manusia, Makhluk itu disebut simpanse. Tapi ada hal yang dapat membedakan antara manusia dan simpanse, saat manusia bercermin cobalah menjawab pertanyaan, “Siapakah aku?”. Jika kau mampu menyadarinya, itulah yang akan membedakan manusia dengan simpanse ketika keduanya bercermin.